Sabtu, 09 Mei 2009

ELECTRICAL THERAPI

DEFIBRILLATION

Penggunaan Terapi Elektrik meliputi :Automated External Defibrillators (AEDs) dan manual defibrillator, Synchronized Cardioversion dan Pacing. AEDs digunakan oleh orang awam dan tenaga kesehatan sebagai bagian dari Basic Life Support. Manual Defibrilation, cardioversion dan pacing adalah Advanced Life Support Terapies.

Pengertian Defibrillation :

Pemberian tenaga listrik yang menyebabkan kejutan (shock) pada klien dengan Ventrikel takhikardi atau ventrikel fibrilasi menjadi suatu irama jantung yang menunjang hidup. Makin cepat defibrilasi dilakukan maka kemungkinan keberhasilan suatu RJP makin besar. Setiap kelambatan 1 menit maka kemungkinan konversi menurun sebanyak 5 %. Karena itu sangat penting segera mengenal terjadinya VT atau VF.

Tujuan :

Menghentikan fibrilasi Ventrikel (VF= Ventricular Fibrilation) atau Takikardia Ventrikel (VT = Ventricular Tachycardia) tanpa adanya denyut nadi.

Coarse VF VT

Fine VF VT

INDIKASI :

Defibrilasi Unsynchronized cardioversion.

  1. Fibrilasi Ventrikel
  2. Takikardia ventrikel tanpa denyut (Pulseless Ventricular Tachycardia)

Defibrilator dapat pula digunakan untuk kardioversi (Synchronized Cardioversio) :

  1. Elektif : SVT yang tidak mempan dengan obat-obatan (PAT, AF rapid, Atrial Flutter, Junctional Takhikardia).
  2. Darurat : Gangguan irama jantung dengan hemodinamik tak stabil (hipotensi atau perfusi jelek), untuk mencegah gangguan yang lebih berat.

PERSIAPAN ALAT / OBAT :

  1. Defibrillator / cardioverter
  2. Lead (kawat sadapan) dan elektroda
  3. Jelly Elektrode
  4. Alat / obat resusitasi
  5. Terapi oksigen
  6. Peralatan suction dengan kateter suction

PERSYARATAN DILAKUKAN DEFIBRILLATION

Sebelum melakukan defibrilasi pastikan benar pasien :

  1. Tidak Sadar
  2. Tidak ada Nafas
  3. Tidak ada Nadi

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan DC Shock :

  1. Stand clear, penolong tak boleh menyentuh klien
  2. Hanya orang yang melakukan DC shock yang harus mengerjakan charge dan discharge padel.
  3. Charging dilakukan pada saat padel sudah kontak dengan klien
  4. Tidak boleh ada cairan sekitar klien
  5. Oksigen harus dijauhkan
  6. Barang-barang metal dan perhiasan harus dijauhkan
  7. Hati-hati kalau klien memakai face-mask.

CARA :

· Putar tombol on, switch unsynchronized

· Pilih Energy 360 joule untuk defibrilator Monophasic

· Atur tombol lead (pilih lead I, II atau III)

· Olesi setiap paddle dengan jelly secara merata

· Letakkan paddles di dada pasien. Letakkan satu paddle di sternum bagian atas tepat di bawah clavicula dan paddle lain di apex jantung (antara tepi putting susu kiri dan garis midaxilla). Posisi lain yang boleh dipilih adalah satu paddle di precordial dan satu paddle lain di infra scapular.

· Segera lakukan charging dengan menekan tombol charge pada paddle.

· Segera setelah dilakukan charging, beritahu tim untuk tidak menempel pada pasien dengan berteriak keras : “ Awas DC shock, nafas buatan berhenti, depan bebas, kiri bebas, saya bebas”

· “ Awas shock !!” Tekan tombol kedua paddles secara simultan, kemudian langsung disusul dengan pijat jantung nafas buatan (CPR) selama 2 menit dan paddles diletakkan ditempatnya.

· Setelah CPR 2 menit evaluasi monitor, tanpa harus memegang nadi carotis. Bila irama tetap VF atau pulseless VT maka diperlukan shock berikutnya, tetap 360 joule (untuk defibrilator monophasic). Ulangi semua tahap di atas.

Posisi Paddles

Kegagalan suatu defibrilasi / kardioversi dapat disebabkan karena :

  1. Adanya hipoksia yang belum teratasi
  2. Gangguan keseimbangan asam-basa
  3. Obat-obatan
  4. Lamanya klien mengalami VF atau VT
  5. Hambatan transthorak : ukuran klien, padel tak kontak dengan klien secara baik, obesitas, pemberian jelly dan tekanan padel yang cukup dapat mengurangi pengaruh hambatan tersebut.
  6. Posisi padel idealnya 1 padel di depan sedangkan padel yang lain dibelakang sehingga tenaga listrik dapat melalui jantung, tetapi posisi ini tidak selalu dapat dilakukan, karena itu diupayakan posisi yang tidak mengenai tulang, 1 padel di daerah parasternal kanan dibawah klavikula sedangkan padel yang lain diletakkan pada garis mid klavikula didaerah apex jantung.

Komplikasi penggunaan defibrilator

  • Luka bakar bila jelly (pelumas) yang digunakan tidak cukup atau kontak yang kurang baik antara paddle dengan dinding dada.
  • Shock listrik (Shock electric) terjadinya sengatan listrik oleh karena kebocoran arus listrik.

Kontra Indikasi :

Defibrilasi : tidak ada

Kardioversi : keracuna digitalis, hipokalemia, hipomagnesemia, AF atau A. Flutter dengan suatu total AV blok.

Dokumentasi :

  1. Fungsi vital sebelum dan sesudah DC shock
  2. Kesadaran
  3. ECG sebelum DC shock
  4. Jam dan jumlah energi yang diberikan
  5. Nama yang melakukan DC shock
  6. ECG setelah Dc shock
  7. Komplikasi yang timbul

Suggested Reading

  1. American Heart Association in Collaboration with the international Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR). Defibrillation. Circulation 2005, 112:IV-35-IV-46
  2. Advanced Cardiac Life Support, American Heart Association, USA 1989
  3. Update on Emergency Medicine & Critical Care Medicine, 3rd Symposium Life Support & Critical Care, Surabaya may 2005.
  4. Materi pelatihan GELS / PPGD seri medis teknis standard, Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo-FK Unair Surabaya 2007 lampiran 14
  5. Fundamental Critical Care Support Third Edition, Society of Critical Care Medicine USA, 2002.
  6. Responding to Patients in Crisis , Advanced Skills, Spring house Corporation, USA 1993
  7. Medtronic, Life pack 20, Defibrilator / monitor series operating Instruction, USA, August 2002

Non-shockable

- Asystol = ECG Flat tidak ada gelombang

CPR + Adrenalin + (SA 3 mg Bolus)

Jika kita ragu antara asystol dan Fine VF jangan defibrilasi, teruskan CPR


- PEA / EMD

Pulseless Electrical Activity / Electro Mechanical Dissociation

ada gelombang mirip ECG normal

TETAPI nadi carotis tidak teraba

Terapi sama seperti Asystole (CPR + Adrenalin)

Monophasic & Biphasic Defibrillation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar